Ada persamaan antara Ki Ageng Suryamentaram dan Akew. Keduanya
sama-sama menolak diberi takhta. Bedanya, Ki Ageng adalah anak raja, sedangkan
Akew adalah Anak Kelong Wewe.
Biasa dipanggil dengan nama yang gemesin oleh keluarga dan tetangganya:
Upi. Akew nyatanya tidak secupu panggilan cupunya. Dia adalah legenda.
Berbekal kemampuan mangolah uang kolektif, Akew yakin masuk jurusan
akuntansi ketika SMK.
Kemampuan manajemen keuangan Akew dilengkapi dengan kecenderungannya
untuk berpikir mendalam. Akew adalah pemikir ulung. Setiap hari dia berpikir
sampai larut malam, yang kemudian berefek pada menurunnya stamina di siang
hari.
Misalnya pada hari masa orientasi siswa, ketika semua siswa baru
dikumpulkan dalam satu ruangan, Akew yang letih berpikir semalaman tertidur
ketika pembicara sedang mengutarakan omong kosong di depan audiens. Merasa
tidak diperhatikan, si pembicara membangunkan Akew, lalu membawanya ke depan
untuk dipermalukan.
Dengan kesadaran yang belum pulih (terlihat dari iler yang
masih terlihat di sekitar bibirnya) Akew nurut saja dibawa ke depan, kemudian
oleh si pembicara dijadikan orang yang tidak boleh dicontoh.
Si pembicara tidak tahu bahwa kelak orang yang dipermalukannya itu
akan menjadi panglima tempur yang disegani se-jagat SMK, bahkan se-Pandeglang.
Panggung
Awal Sang Panglima Tempur
Ditariknya Akew ke depan audiens menjadi awal publik SMK
mengenalnya, namun saat itu citranya adalah sebagai orang yang tidur ngiler
ketika MOS. Bukan sebagai orang yang disegani karena kekuatannya.
Untuk kamu yang belum tahu, biar gue sedikit menggambarkan Akew
dari segi fisiknya.
Badannya kekar, tinggi sedang, rambutnya tipis, poninya tinggi,
tapi gondrong di bagian cambang dari rambut belakang. Yang paling mudah diingat
adalah bekas luka tepat di bawah mata kanannya. Secara keseluruhan, tampilannya
menyeramkan. Begitu buas. Setan juga minder kalo papasan sama Akew.
Di awal kemunculannya, tongkrongan Akew berada di pinggir jalan,
masih dekat dengan area sekolah, di sebuah warung yang sangat sederhana, bahan
bangunnya nyaris semua dari kayu. Sayang, kini warung tersebut sudah hilang diratakan
alat berat untuk kemudian dibangun dealer mobil. Warung itu tak mampu bertahan
di era kapitalis.
Pada masanya, tongkrongan tersebut terasa begitu nyaman, belum
begitu banyak orang yang tergabung di sana. Lambat laun, dengan sikap Akew yang
garang namun tetap ramah, beberapa orang singgah di sana untuk kemudian
berteman dengan Akew. Kemudian, Akew punya cukup banyak pengikut.
Berada di lingkaran cukup besar membuat para penghuni lingkaran
merasa punya kekuatan lebih atau setara atas para penghuni lingkar lain. Lalu
timbul superioritas, kemudian timbul konflik.
Akew selalu jadi penengah. Dia mendamaikan tanpa membela berlebih
anggotanya dan tidak terlalu menyudutkan anggota kubu seberang. Akew punya
kekuatan menyelesaikan perkara dengan baku hantam, tapi dia sadar jika masih
bisa diselesaikan dengan damai, mengapa harus baku hantam..
Dari sana, orang-orang mulai segan terhadap Akew.
Menjadi
Lebih Besar
Entah kenapa, di setiap sekolah mulai dari SD sampai SMA akan
selalu ada geng-gengan. SMK tak terkecuali, di sana ada 2 geng mayor: Kesrek
dan Rasta (keduanya bukan nama sebenarnya), dan beberapa geng minor.
Kesrek mewakili kaum sayap kiri, para rakyat jelata yang mendamba
kebebasan dan selalu identik dengan perlawanan. Sedang Rasta adalah
kebalikannya. Persamaan keduanya adalah kekeluargaan antar anggotanya.
Letak kedua tongkrongan tersebut masih dalam satu area. Rasta
berada tepat di samping kampus, sedang Kesrek berada di seberangnya. Keduanya
dipisahkan jalan raya. Jika dilihat sekilas, tongkrongan Kesrek tidak akan
terlihat sebab tempatnya yang tersembunyi karena letaknya disamarkan oleh jalan
yang menurun curam. Mirip tempat-tempat bawah tanah.
*
Nama Akew mulai tenar. Kedua geng mayor mulai mendekati Akew untuk
mengajaknya bergabung. Mulanya ia enggan bergabung dengan keduanya, karena
merasa cukup nyaman dengan keluarga kecilnya di tempat itu. Namun lama-kelamaan
disertai visi sesuai dan pendekatan yang lebih intens dari salah satu kubu,
Akew bergabung dengan Kesrek. Di sana, dia memiliki keluarga yang lebih besar.
Menjadi anggota dari keluarga yang besar harus dibarengi tanggung
jawab menjaga anggota lainnya. Akew tahu itu, ia menjadi semacam guardian
angel bagi anggota lainnya, yang sayangnya sering dijadikan tameng oleh
orang-orang di belakangnya karena kekuatannya yang terlampau besar.
Menginjak kelas 2, sosok Akew menjadi semakin kuat. Setelah
lulusnya kelas 3 yang dulu, yang sering tidak sepaham, pengaruhnya di Kesrek
kian kuat, keputusannya nyaris absolut.
Ia merekrut anggota baru, mendapat hormat dari semuanya: adik
kelas, teman-teman seangkatan, bahkan kakak kelas tak memiliki alasan untuk
tidak menghormatinya.
Pemimpin lama telah pergi, Kesrek butuh pemimpin baru. Akew jadi
kandidat terkuat, tapi dia menolak. Dia lebih memilih menyerahkannya kepada
salah satu anggota terlama di sana yang saat itu sudah kelas 3. Selain karena
merasa ‘tidak enak’, alasan Akew menolak diberi takhta adalah karena sifatnya
yang tidak gila hormat. Dia tidak menyukai jenis penghormatan seperti boss dan
bawahannya, dia hanya ingin penghormatan setara. Dia juga tidak terlalu
menyukai panggilan ‘kakak’ atau ‘abang’ yang disematkan padanya. Baginya, semua
itu tidak perlu.
Akew mempersilakan takhta diberikan kepada kakak kelas yang
menurutnya lebih berhak ketimbang dirinya. Si kakak kelas mendapat takhta, tapi
tak mendapat hormat, di mata anggotanya, Akew adalah pemimpin sebenarnya.
Sangat
Besar
Asal kau tahu, di mata sekolah-sekolah lain, SMK adalah tempat
siswa-siswa sekolah lain mencari pacar. Bukan tanpa alasan, karena jumlah murid
perempuannya lebih banyak dari laki-lakinya. Perbandingannya 2:1.
Dengan analogi di sana ada 1.500 murid, 1.000 perempuan dan 500
laki-laki. Jika masing-masing satu orang laki-laki memacari satu perempuan, maka
akan menyisakan 500 perempuan jomblo. Dengan demikian, siswa-siswa dari sekolah
lain berbondong-bondong berburu ‘sisa’ tersebut.
Akew dan beberapa teman yang lain sadar akan citra ‘feminim’ yang
disematkan pada sekolahnya. Mereka ingin agar sekolahnya punya citra sangar
walaupun jumlah laki-lakinya tidak sebanyak perempuan. Dari sana, lahirlah 165.
165 bukan lagi kelompok antar geng, melainkan kelompok yang
menaungi satu sekolah. Jauh lebih besar dari kedua geng mayor.
Sebelumnya, belum ada kelompok seperti itu di SMK, sebuah kelompok
yang mempersatukan berbagai kelompok dalam satu atap yang sama. Boleh dibilang
165 adalah sebuah dobrakan tradisi, Akew adalah pelopor dan pemersatu.
Kegiatan awal 165 adalah mengiklankannya. Caranya, membuat coretan 165
dengan pilok di tembok-tembok yang ditemui di berbagai tempat yang ditemui.
Kemudian berkoalisi dengan sekolah-sekolah sahabat. Lalu kemudian ikut serta
dalam baku hantam lintas sekolah dan lintas kota.
Dalam setiap kegiatan 165, Akew selalu di garis terdepan, dia
adalah panglimanya.
*
Bersama Akew dan 165, citra SMK yang dikenal feminim berangsur
berubah menjadi lebih disegani dari sebelumnya.
Namun dilihat dari aktivitas yang terlihat dari luar, murid-murid (terutama
perempuan) menilai Akew dan teman-teman tak lebih dari kumpulan tukang rusuh.
Wajar, karena kelihatannya memang seperti itu.
Tapi ada banyak hal yang tidak dilihat oleh mereka, diantaranya:
mengusir pemalakan yang datang dari murid sekolah lain.
Orang-orang tidak melihat kalau dulu lumayan sering orang-orang
datang dari sekolah lain meminta uang kepada siswa-siswa SMK. Mereka melihat
siswa SMK adalah ‘banci’ yang bisa diperas uangnya. Adalah tugas Akew untuk
menendang keluar pemalak tersebut.
Bagaimanapun, akan ada dua wajah yang terlihat dari Akew dan 165. Bajingan
atau pahlawan, baik ataupun buruk. Yang jelas, Akew adalah wajah 165, dia
adalah penggerak, pemimpin yang tetap membumi, raja yang menolak takhta. Seorang
panglima tempur yang melegenda. Sulit untuk menemukan yang sepertinya dalam
beberapa tahun.
