Senin, 01 April 2019

Dia Adalah Akew

Ada persamaan antara Ki Ageng Suryamentaram dan Akew. Keduanya sama-sama menolak diberi takhta. Bedanya, Ki Ageng adalah anak raja, sedangkan Akew adalah Anak Kelong Wewe.
Biasa dipanggil dengan nama yang gemesin oleh keluarga dan tetangganya: Upi. Akew nyatanya tidak secupu panggilan cupunya. Dia adalah legenda.
Berbekal kemampuan mangolah uang kolektif, Akew yakin masuk jurusan akuntansi ketika SMK.
Kemampuan manajemen keuangan Akew dilengkapi dengan kecenderungannya untuk berpikir mendalam. Akew adalah pemikir ulung. Setiap hari dia berpikir sampai larut malam, yang kemudian berefek pada menurunnya stamina di siang hari.
Misalnya pada hari masa orientasi siswa, ketika semua siswa baru dikumpulkan dalam satu ruangan, Akew yang letih berpikir semalaman tertidur ketika pembicara sedang mengutarakan omong kosong di depan audiens. Merasa tidak diperhatikan, si pembicara membangunkan Akew, lalu membawanya ke depan untuk dipermalukan.
Dengan kesadaran yang belum pulih (terlihat dari iler yang masih terlihat di sekitar bibirnya) Akew nurut saja dibawa ke depan, kemudian oleh si pembicara dijadikan orang yang tidak boleh dicontoh.
Si pembicara tidak tahu bahwa kelak orang yang dipermalukannya itu akan menjadi panglima tempur yang disegani se-jagat SMK, bahkan se-Pandeglang.

Panggung Awal Sang Panglima Tempur
Ditariknya Akew ke depan audiens menjadi awal publik SMK mengenalnya, namun saat itu citranya adalah sebagai orang yang tidur ngiler ketika MOS. Bukan sebagai orang yang disegani karena kekuatannya.
Untuk kamu yang belum tahu, biar gue sedikit menggambarkan Akew dari segi fisiknya.
Badannya kekar, tinggi sedang, rambutnya tipis, poninya tinggi, tapi gondrong di bagian cambang dari rambut belakang. Yang paling mudah diingat adalah bekas luka tepat di bawah mata kanannya. Secara keseluruhan, tampilannya menyeramkan. Begitu buas. Setan juga minder kalo papasan sama Akew.


Di awal kemunculannya, tongkrongan Akew berada di pinggir jalan, masih dekat dengan area sekolah, di sebuah warung yang sangat sederhana, bahan bangunnya nyaris semua dari kayu. Sayang, kini warung tersebut sudah hilang diratakan alat berat untuk kemudian dibangun dealer mobil. Warung itu tak mampu bertahan di era kapitalis.
Pada masanya, tongkrongan tersebut terasa begitu nyaman, belum begitu banyak orang yang tergabung di sana. Lambat laun, dengan sikap Akew yang garang namun tetap ramah, beberapa orang singgah di sana untuk kemudian berteman dengan Akew. Kemudian, Akew punya cukup banyak pengikut.
Berada di lingkaran cukup besar membuat para penghuni lingkaran merasa punya kekuatan lebih atau setara atas para penghuni lingkar lain. Lalu timbul superioritas, kemudian timbul konflik.
Akew selalu jadi penengah. Dia mendamaikan tanpa membela berlebih anggotanya dan tidak terlalu menyudutkan anggota kubu seberang. Akew punya kekuatan menyelesaikan perkara dengan baku hantam, tapi dia sadar jika masih bisa diselesaikan dengan damai, mengapa harus baku hantam..
Dari sana, orang-orang mulai segan terhadap Akew.

Menjadi Lebih Besar
Entah kenapa, di setiap sekolah mulai dari SD sampai SMA akan selalu ada geng-gengan. SMK tak terkecuali, di sana ada 2 geng mayor: Kesrek dan Rasta (keduanya bukan nama sebenarnya), dan beberapa geng minor.
Kesrek mewakili kaum sayap kiri, para rakyat jelata yang mendamba kebebasan dan selalu identik dengan perlawanan. Sedang Rasta adalah kebalikannya. Persamaan keduanya adalah kekeluargaan antar anggotanya.
Letak kedua tongkrongan tersebut masih dalam satu area. Rasta berada tepat di samping kampus, sedang Kesrek berada di seberangnya. Keduanya dipisahkan jalan raya. Jika dilihat sekilas, tongkrongan Kesrek tidak akan terlihat sebab tempatnya yang tersembunyi karena letaknya disamarkan oleh jalan yang menurun curam. Mirip tempat-tempat bawah tanah.
*
Nama Akew mulai tenar. Kedua geng mayor mulai mendekati Akew untuk mengajaknya bergabung. Mulanya ia enggan bergabung dengan keduanya, karena merasa cukup nyaman dengan keluarga kecilnya di tempat itu. Namun lama-kelamaan disertai visi sesuai dan pendekatan yang lebih intens dari salah satu kubu, Akew bergabung dengan Kesrek. Di sana, dia memiliki keluarga yang lebih besar.
Menjadi anggota dari keluarga yang besar harus dibarengi tanggung jawab menjaga anggota lainnya. Akew tahu itu, ia menjadi semacam guardian angel bagi anggota lainnya, yang sayangnya sering dijadikan tameng oleh orang-orang di belakangnya karena kekuatannya yang terlampau besar.
Menginjak kelas 2, sosok Akew menjadi semakin kuat. Setelah lulusnya kelas 3 yang dulu, yang sering tidak sepaham, pengaruhnya di Kesrek kian kuat, keputusannya nyaris absolut.
Ia merekrut anggota baru, mendapat hormat dari semuanya: adik kelas, teman-teman seangkatan, bahkan kakak kelas tak memiliki alasan untuk tidak menghormatinya.
Pemimpin lama telah pergi, Kesrek butuh pemimpin baru. Akew jadi kandidat terkuat, tapi dia menolak. Dia lebih memilih menyerahkannya kepada salah satu anggota terlama di sana yang saat itu sudah kelas 3. Selain karena merasa ‘tidak enak’, alasan Akew menolak diberi takhta adalah karena sifatnya yang tidak gila hormat. Dia tidak menyukai jenis penghormatan seperti boss dan bawahannya, dia hanya ingin penghormatan setara. Dia juga tidak terlalu menyukai panggilan ‘kakak’ atau ‘abang’ yang disematkan padanya. Baginya, semua itu tidak perlu.
Akew mempersilakan takhta diberikan kepada kakak kelas yang menurutnya lebih berhak ketimbang dirinya. Si kakak kelas mendapat takhta, tapi tak mendapat hormat, di mata anggotanya, Akew adalah pemimpin sebenarnya.

Sangat Besar
Asal kau tahu, di mata sekolah-sekolah lain, SMK adalah tempat siswa-siswa sekolah lain mencari pacar. Bukan tanpa alasan, karena jumlah murid perempuannya lebih banyak dari laki-lakinya. Perbandingannya 2:1.
Dengan analogi di sana ada 1.500 murid, 1.000 perempuan dan 500 laki-laki. Jika masing-masing satu orang laki-laki memacari satu perempuan, maka akan menyisakan 500 perempuan jomblo. Dengan demikian, siswa-siswa dari sekolah lain berbondong-bondong berburu ‘sisa’ tersebut.
Akew dan beberapa teman yang lain sadar akan citra ‘feminim’ yang disematkan pada sekolahnya. Mereka ingin agar sekolahnya punya citra sangar walaupun jumlah laki-lakinya tidak sebanyak perempuan. Dari sana, lahirlah 165.
165 bukan lagi kelompok antar geng, melainkan kelompok yang menaungi satu sekolah. Jauh lebih besar dari kedua geng mayor.
Sebelumnya, belum ada kelompok seperti itu di SMK, sebuah kelompok yang mempersatukan berbagai kelompok dalam satu atap yang sama. Boleh dibilang 165 adalah sebuah dobrakan tradisi, Akew adalah pelopor dan pemersatu.
Kegiatan awal 165 adalah mengiklankannya. Caranya, membuat coretan 165 dengan pilok di tembok-tembok yang ditemui di berbagai tempat yang ditemui. Kemudian berkoalisi dengan sekolah-sekolah sahabat. Lalu kemudian ikut serta dalam baku hantam lintas sekolah dan lintas kota.
Dalam setiap kegiatan 165, Akew selalu di garis terdepan, dia adalah panglimanya.
*
Bersama Akew dan 165, citra SMK yang dikenal feminim berangsur berubah menjadi lebih disegani dari sebelumnya.
Namun dilihat dari aktivitas yang terlihat dari luar, murid-murid (terutama perempuan) menilai Akew dan teman-teman tak lebih dari kumpulan tukang rusuh. Wajar, karena kelihatannya memang seperti itu.
Tapi ada banyak hal yang tidak dilihat oleh mereka, diantaranya: mengusir pemalakan yang datang dari murid sekolah lain.
Orang-orang tidak melihat kalau dulu lumayan sering orang-orang datang dari sekolah lain meminta uang kepada siswa-siswa SMK. Mereka melihat siswa SMK adalah ‘banci’ yang bisa diperas uangnya. Adalah tugas Akew untuk menendang keluar pemalak tersebut.


Bagaimanapun, akan ada dua wajah yang terlihat dari Akew dan 165. Bajingan atau pahlawan, baik ataupun buruk. Yang jelas, Akew adalah wajah 165, dia adalah penggerak, pemimpin yang tetap membumi, raja yang menolak takhta. Seorang panglima tempur yang melegenda. Sulit untuk menemukan yang sepertinya dalam beberapa tahun.
No comments

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts