Ingatan saya mundur beberapa
tahun ke belakang, ketika PR akuntansi masih sangat terasa paling menakutkan,
dan tentu saja, ketika uang belum menduduki kasta tertinggi kehidupan.
Saya menempuh pendidikan SMK pada
tahun 2010 sampai dengan tahun 2013. Uang saku saya waktu itu hanya sebesar
10.000 rupiah, dengan rincian 2.000 untuk ongkos pulang pergi naik angkot,
3.000 untuk sarapan, dan 5.000 untuk jajan. Uang jajan 5.000 tersebut bisa
dihabiskan dengan membeli mie ayam seharga 3.000 dan es teh 1.000. Masih sisa
1.000, bisa untuk mentraktir gebetan segelas ale-ale dingin. Cihuy!
Gobloknya, ketika masih berstatus
pelajar, saya sudah menjadi perokok aktif. Uang 5.000 yang tadinya bisa dipakai
untuk makan dan minum, malah saya belanjakan beberapa batang filter. Imbasnya, waktu
sarapan yang seharusnya jam 7 pagi, saya mundurkan sampai jam 12 siang. Sebuah strategi
brillian agar tidak terkapar kelaparan.
Siklus penghabisan uang tersebut terus
berulang selama 3 tahun, jarang jajan, apa lagi neraktir gebetan. Pokoknya pedih.
Ternyata larangan orang tua untuk tidak merokok saat masih sekolah adalah benar
adanya.
Bagi pelajar yang diberi uang
jajan minim seperti saya, sudah sangat pasti sangat membenci manusia yang
mempunyai kedudukan sebagai bendahara kelas. Bagi saya, bendahara kelas adalah
manusia ngehek yang diturunkan Tuhan untuk menguji hambanya dengan cara mengambil
harta yang kita punya.
![]() |
| Ini Uang |
Biasanya seminggu sekali
bendahara bakal nagih uang sebesar 2.000 rupiah kepada setiap siswa, ketika
hari itu tiba, saya dihadapkan pada pilihan antara tidak makan siang atau tetap
makan tapi bersedia mulut asam karena tidak kebeli rokok. Kampret, pokoknya
mah.
Kejadian tersebut terus terulang,
membuat saya memutar otak. Bagaimana caranya uang kas terbayar dan perut tidak
kesakitan. Ada beberapa teman yang mengatasi masalah tersebut dengan cara
meminta uang lebih kepada orang tuanya dengan alasan membeli buku. Untuk kegiatan
seperti ini biasa disebut Uniko: Usaha
Nipu Kolot.
Lalu, apakah saya melakukan
Uniko? Tentu saja tidak. Uniko hanya diperuntukkan untuk spesies manusia paling
lemah di muka bumi.
Hal pertama yang saya lakukan
untuk mengatasi masalah keuangan adalah mengingat tanggal ulang tahun teman. Dulu
saya membuat reminder di handphone sebagai pengingat tanggal ulang tahun. Namun,
beruntunglah saya hidup di jaman internet karena ada facebook yang akan selalu
mengingatkan ulang tahun teman. Terimakasih facebook (cium pipinya Mas Zukebeg).
Saya adalah tipe manusia yang
setiap bangun tidur langsung pegang hp, dilanjutkan buka facebook. Bukan buat
update status “met pagih eaaa”, tapi ya itu, liat siapa aja yang ulang tahun di
hari itu. Ketika ada salah seorang teman yang ulang tahun, setidaknya hari itu
adalah jaminan makan gratis.
Untuk kalian yang bertanya “buat apa punya banyak teman?” maka
jawabannya adalah buat bisa makan gratis.
Semakin banyak teman Anda, semakin sering makanan traktiran mampir ke perut
Anda. Gitu.
Sayang, mengandalkan traktiran
ulang tahun tidak selamanya berfungsi, kadang memang ada teman yang susah
dimintai traktiran dengan berbagai alasan seperti “gak punya uang”,”si Om belum
transfer”, sampe “eh lo siapa?” jika Anda mendapat jawaban yang terakhir maka
menjauhlah, sadar diri aja.
Tidak bisa diandalkannya opsi
pertama, saya kembali memutar otak, pilihan kedua saya adalah mendengar
curhatan orang.
Gini, saya bukanlah orang bijak
yang bisa memberikan nasihat super
kepada orang-orang yang sering mengeluh tentang masalahnya. Misalnya ketika
seorang perempuan yang dihadapkan pada suatu dilema antara mempertahankan
hubungan atau menjalin hubungan baru bersama orang lain, maka jawaban saya akan
se-sederhana: “lo pacarin aja keduanya.” Singkat, padat, dan bedebah.
Anehnya, mereka akan tetap
berbondong-bondong untuk mengutarakan masalahnya, padahal tidak ada yang mereka
dapat dari mengutarakan masalah kepada saya selain jawaban sampah, jawaban
tidak bermutu.
Hal tersebut seolah menjadi lapak
baru. Saya memanfaatkan kedatangan orang curhat tersebut untuk mengisi perut,
karena biasanya mereka datang dengan membawa makanan. Minimal keripik, atau
roti, lah. Lumayan buat ganjel perut.
Lalu ketika ulang tahun dan
curhat sedang sepi, saya punya solusi lain: menipu atas nama sumbangan.
Saya tahu ini buruk, tapi..
ayolah, di luar sana juga masih banyak orang yang memanfaatkan cara ini untuk
mengasapi dapurnya.
Untuk cara ini, biasanya saya
akan melihat teman yang setidaknya sudah absen selama 2 hari. Tidak ada orang
paling tepat untuk dijadikan kambing hitam selain Ajis. FYI, Ajis adalah manusia
yang paling tabah: selalu mengirimkan surat sakit walau tidak pernah mendapat
balasan sekalipun dari pihak sekolah. Meskipun begitu, ia tidak pernah lelah
apalagi bosan untuk mengirimi surat kepada pihak sekolah. Ajis begitu tulus. Jadilah
seperti Ajis.
Ketika surat Ajis datang di pagi
hari, maka saya akan berkeliling sekolah meminta sumbangan untuk menjenguk
Ajis. Saya tidak akan pergi sendiri, biasanya saya membawa 2 orang untuk
memberikan testimoni. Misal ketika saya datang ke kelas perhotelan dan bilang
bahwa Ajis nabrak, lalu orang yang dipinta uang gak percaya, maka 2 orang yang
saya ajak akan memberikan testimoni “beneran, kepalanya kena.” Lalu ketika
ditanya “emang nabrak apa?”, kami berlagak gak tau. Padahal kejadian sebenarnya
si Ajis cuma nabrak tembok (baca: kejedot).
*
Begitulah cara saya mengakali
permasalahan keuangan. Bagi saya kekurangan uang bukan berarti harus merengek. Kesulitan
adalah sebuah jalan agar isi batok kepala bisa berpikir dan mencari solusi. Percayalah,
kesulitan keuangan membuat Anda kuat. Jika Anda seorang pelajar, jangan pernah
berkecil hati jika uang saku Anda terbilang kecil. Percayalah Anda tidak
sendiri, bahkan ada orang lain yang uang jajannya lebih kecil dari Anda. Tentu saja,
orang itu adalah saya.
1 Comment

Lucu ndar wkwkwkwk
BalasHapus