Senin, 04 September 2017

Cara Saya Mengatasi Uang Jajan Minim

Ingatan saya mundur beberapa tahun ke belakang, ketika PR akuntansi masih sangat terasa paling menakutkan, dan tentu saja, ketika uang belum menduduki kasta tertinggi kehidupan.
Saya menempuh pendidikan SMK pada tahun 2010 sampai dengan tahun 2013. Uang saku saya waktu itu hanya sebesar 10.000 rupiah, dengan rincian 2.000 untuk ongkos pulang pergi naik angkot, 3.000 untuk sarapan, dan 5.000 untuk jajan. Uang jajan 5.000 tersebut bisa dihabiskan dengan membeli mie ayam seharga 3.000 dan es teh 1.000. Masih sisa 1.000, bisa untuk mentraktir gebetan segelas ale-ale dingin. Cihuy!

Gobloknya, ketika masih berstatus pelajar, saya sudah menjadi perokok aktif. Uang 5.000 yang tadinya bisa dipakai untuk makan dan minum, malah saya belanjakan beberapa batang filter. Imbasnya, waktu sarapan yang seharusnya jam 7 pagi, saya mundurkan sampai jam 12 siang. Sebuah strategi brillian agar tidak terkapar kelaparan.
Siklus penghabisan uang tersebut terus berulang selama 3 tahun, jarang jajan, apa lagi neraktir gebetan. Pokoknya pedih. Ternyata larangan orang tua untuk tidak merokok saat masih sekolah adalah benar adanya.
Bagi pelajar yang diberi uang jajan minim seperti saya, sudah sangat pasti sangat membenci manusia yang mempunyai kedudukan sebagai bendahara kelas. Bagi saya, bendahara kelas adalah manusia ngehek yang diturunkan Tuhan untuk menguji hambanya dengan cara mengambil harta yang kita punya.
Ini Uang

Biasanya seminggu sekali bendahara bakal nagih uang sebesar 2.000 rupiah kepada setiap siswa, ketika hari itu tiba, saya dihadapkan pada pilihan antara tidak makan siang atau tetap makan tapi bersedia mulut asam karena tidak kebeli rokok. Kampret, pokoknya mah.
Kejadian tersebut terus terulang, membuat saya memutar otak. Bagaimana caranya uang kas terbayar dan perut tidak kesakitan. Ada beberapa teman yang mengatasi masalah tersebut dengan cara meminta uang lebih kepada orang tuanya dengan alasan membeli buku. Untuk kegiatan seperti ini biasa disebut Uniko: Usaha Nipu Kolot.
Lalu, apakah saya melakukan Uniko? Tentu saja tidak. Uniko hanya diperuntukkan untuk spesies manusia paling lemah di muka bumi.
Hal pertama yang saya lakukan untuk mengatasi masalah keuangan adalah mengingat tanggal ulang tahun teman. Dulu saya membuat reminder di handphone sebagai pengingat tanggal ulang tahun. Namun, beruntunglah saya hidup di jaman internet karena ada facebook yang akan selalu mengingatkan ulang tahun teman. Terimakasih facebook (cium pipinya Mas Zukebeg).
Saya adalah tipe manusia yang setiap bangun tidur langsung pegang hp, dilanjutkan buka facebook. Bukan buat update status “met pagih eaaa”, tapi ya itu, liat siapa aja yang ulang tahun di hari itu. Ketika ada salah seorang teman yang ulang tahun, setidaknya hari itu adalah jaminan makan gratis.
Untuk kalian yang bertanya “buat apa punya banyak teman?” maka jawabannya adalah buat bisa makan gratis. Semakin banyak teman Anda, semakin sering makanan traktiran mampir ke perut Anda. Gitu.
Sayang, mengandalkan traktiran ulang tahun tidak selamanya berfungsi, kadang memang ada teman yang susah dimintai traktiran dengan berbagai alasan seperti “gak punya uang”,”si Om belum transfer”, sampe “eh lo siapa?” jika Anda mendapat jawaban yang terakhir maka menjauhlah, sadar diri aja.
Tidak bisa diandalkannya opsi pertama, saya kembali memutar otak, pilihan kedua saya adalah mendengar curhatan orang.
Gini, saya bukanlah orang bijak yang bisa memberikan nasihat super kepada orang-orang  yang sering  mengeluh tentang masalahnya. Misalnya ketika seorang perempuan yang dihadapkan pada suatu dilema antara mempertahankan hubungan atau menjalin hubungan baru bersama orang lain, maka jawaban saya akan se-sederhana: “lo pacarin aja keduanya.” Singkat, padat, dan bedebah.
Anehnya, mereka akan tetap berbondong-bondong untuk mengutarakan masalahnya, padahal tidak ada yang mereka dapat dari mengutarakan masalah kepada saya selain jawaban sampah, jawaban tidak bermutu.
Hal tersebut seolah menjadi lapak baru. Saya memanfaatkan kedatangan orang curhat tersebut untuk mengisi perut, karena biasanya mereka datang dengan membawa makanan. Minimal keripik, atau roti, lah. Lumayan buat ganjel perut.

Lalu ketika ulang tahun dan curhat sedang sepi, saya punya solusi lain: menipu atas nama sumbangan.
Saya tahu ini buruk, tapi.. ayolah, di luar sana juga masih banyak orang yang memanfaatkan cara ini untuk mengasapi dapurnya.
Untuk cara ini, biasanya saya akan melihat teman yang setidaknya sudah absen selama 2 hari. Tidak ada orang paling tepat untuk dijadikan kambing hitam selain Ajis. FYI, Ajis adalah manusia yang paling tabah: selalu mengirimkan surat sakit walau tidak pernah mendapat balasan sekalipun dari pihak sekolah. Meskipun begitu, ia tidak pernah lelah apalagi bosan untuk mengirimi surat kepada pihak sekolah. Ajis begitu tulus. Jadilah seperti Ajis.
Ketika surat Ajis datang di pagi hari, maka saya akan berkeliling sekolah meminta sumbangan untuk menjenguk Ajis. Saya tidak akan pergi sendiri, biasanya saya membawa 2 orang untuk memberikan testimoni. Misal ketika saya datang ke kelas perhotelan dan bilang bahwa Ajis nabrak, lalu orang yang dipinta uang gak percaya, maka 2 orang yang saya ajak akan memberikan testimoni “beneran, kepalanya kena.” Lalu ketika ditanya “emang nabrak apa?”, kami berlagak gak tau. Padahal kejadian sebenarnya si Ajis cuma nabrak tembok (baca: kejedot).
*

Begitulah cara saya mengakali permasalahan keuangan. Bagi saya kekurangan uang bukan berarti harus merengek. Kesulitan adalah sebuah jalan agar isi batok kepala bisa berpikir dan mencari solusi. Percayalah, kesulitan keuangan membuat Anda kuat. Jika Anda seorang pelajar, jangan pernah berkecil hati jika uang saku Anda terbilang kecil. Percayalah Anda tidak sendiri, bahkan ada orang lain yang uang jajannya lebih kecil dari Anda. Tentu saja, orang itu adalah saya.
1 Comment

1 komentar:

Popular Posts