Sapardi Djoko Damono boleh bilang
“tak ada yang lebih tabah dari hujan
bulan juni,” namun, bagi saya “tak
ada yang lebih tabah dari pendukung Liverpool.”
Sebelumnya, perkenalkan, saya
adalah fans Liverpool sedari Sekolah Dasar, atau jika lebih spesifik, saya
menjadi fans Liverpool sejak final liga Champions tahun 2005, ketika umur saya
masih 10 tahun, ketika Liverpool menang dramatis setelah ketinggalan 3 gol
lebih dulu melawan AC Milan. Sejak itu, saya menganggap tidak ada pemain
sepakbola yang lebih keren daripada Steven Gerrard, dan tidak ada pula tim yang
lebih menggairahkan untuk ditonton selain Liverpool.
Keluarga saya bukanlah seorang
pendukung Liverpool. Kakak pertama saya memegang Juventus sebagai jagoannya,
kakak kedua memilih Barcelona, sedangkan Bapak saya.. tidak jelas. Bukan, bukan.
Maksudnya bukan saya meragukan kejelasan status Bapak saya sebagai ayah
kandung. Tidak sesinetron itu.
Begini, kadang di malam minggu
beliau menggunakan kaos MU lalu berkoar Glory Glory Manchester United, lalu
beberapa tahun kemudian menasbihkan diri sebagai pendukung Barcelona era Pep
Guardiola, lalu sekarang beralih ke Manchester City. Bisa dibilang, beliau
adalah seorang Glory Hunter.
Bagi fans Liverpool, tidak ada
tim yang paling dibenci selain Manchester United, sehebat apapun tim tersebut,
sekelas dunia apapun pemain yang bermain di sana tidak mempengaruhi kebencian
kami terhadap si setan merah. Hal ini tidak terlepas dari sejarah dan
persaingan gelar yang diperebutkan kedua tim.
Sialnya, Bapak saya adalah
(pernah) penggemar Manchester United. Bayangkan, hampir setiap pertandingan
antara Liverpool melawan MU, saya harus mendengar kalimat sindiran seperti
“huh, tim hobi keok.” Atau yang lebih menyayat hati seperti “tim ecek-ecek yang
gak pernah juara liga Inggris lagi.”
![]() |
| Supporter Liverpool |
Saya tidak bisa membalas, selain
karena tidak ingin dianggap durhaka, memang pada saat itu MU sedang di puncak
kejayaan bersama Sir Alex Ferguson dengan raihan segudang prestasinya.
Beruntung kecintaan Bapak saya terhadap MU tidak abadi, dengan demikian kebenciannya
kepada saya yang memilih jalan menjadi supporter Liverpool tidak berlanjut
selamanya.
Menjadi pendukung Liverpool adalah
kesakitan paling disengaja. Bagaimana tidak, kehilangan harapan di setiap
penghujung musim bagai menelan sebuah pil pahit setiap tahun. Karena keseringan,
saya menganggapnya cemilan.
Tercatat setidaknya sudah dua kali,
2008/2009 ketika hampir juara bersama Fernando Torres, lalu 2013/2014 bersama
Luis Suarez. Ketika kami beramai-ramai meneriakan kalimat “this is our year”
lalu terpeleset di laga-laga pamungkas, yang akhirnya teriakan tersebut berubah
menjadi kalimat lesu “next season will
be our year.” Kalimat yang terus berulang setiap tahun, sampai saat ini.
Minim prestasi di kancah domestik
dan eropa membuat saya agak malu mengeluarkan ke-Liverpool-an saya, sebab hanya
akan ada kepedihan demi kepedihan yang akan saya dapat. Misal ketika sedang
main PS. Dulu, saya sering menghabiskan malam minggu di rental PS2 dengan
bermain Winning Eleven, biasanya harus ada setidaknya 4 orang agar bisa main
mode Cup.
Ketika teman-teman memperebutkan
Barcelona dan Real Madrid sebagai tim yang akan mereka pakai, saya dengan selow
memilih Liverpool. Lalu, apa komentar yang saya dapat? “idih, tim ecek-ecek.
Pake yang kuat, napa.” Begitu ucap teman saya, yang kemudian menganggap saya
meremehkannya karena menurutnya tidak mungkin Real Madrid melawan Liverpool,
sebuah kesenjangan yang sangat jauh.
Karena saya memiliki pendirian teguh
terhadap Liverpool, beliau akhirnya mengganti tim pilhannya dari Real Madrid
menjadi Swansea City, “biar seimbang” katanya.
Duh, Gusti nu agung..
Masuknya Jurgen Klopp pada bulan
Oktober 2015 bagai sebuah angin segar. Sebab dengan reputasinya ketika
menukangi Borussia Dortmund tidak bisa dianggap sepele. Meruntuhkan dominasi
Bayern Munchen di Bundesliga dan melaju sampai final liga champions adalah
prestasinya.
Harapan akan berakhirnya puasa
gelar liga Inggris yang sudah sangat lama tidak mampir ke Anfield sepertinya bakal
segara berakhir. Di musim pertamanya, Jurgen Klopp sukses membawa The Reds
masuk ke 2 partai puncak: piala liga dan Liga Europa (bukan Liga Champions lho).
Namun, apa yang kami dapat? Betul. Kepahitan, bung. Lagi-lagi kami harus tabah
pada kenyataan. Nyatanya, seorang Jurgen Klopp bukan Dewa yang bisa menyulap
Liverpool menjadi kesebelasan juara dalam waktu singkat.
Next year will be our year,
begitu ucap kami setiap mengalami kegagalan di suatu musim. Musim 2016/2017
bergulir, Liverpool secara garang melibas lawan-lawannya, bahkan belum pernah
kalah ketika melawan anggota big six liga Inggris.
Harapan kami memuncak sampai
akhir tahun 2016 Liverpool duduk di peringkat 2 liga, berselisih poin tipis
dengan pemuncak klasemen Chelsea. This is our year, ucap kami. Namun, selepas
pergantian tahun, performa tim jagoan kami merosot drastis, harapan akan gelar
juara kembali hilang, di sisa laga sebelum musim berakhir Liverpool bahkan harus
susah payah memperebutkan peringkat 4. Kembali, ketabahan adalah segalanya. Kembali
pula, kalimat next year will be our year kami kumandangkan bersama.
Kini, gelaran liga Inggris musim
2017/2018 sudah akan memasuki pekan ke-4, harapan tentu saja masih sangat
membara mengiringi musim anyar dimulai. Semoga tahun ini adalah tahun kami.
Tapi, walaupun masih gagal, masih ada tahun depan. Toh, kami memang lebih tabah
dari hujan bulan juni.
No comments

0 komentar:
Posting Komentar