Selasa, 05 September 2017

Supporter Liverpool Yang Lebih Tabah Dari Hujan Bulan Juni

Sapardi Djoko Damono boleh bilang “tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni,” namun, bagi saya “tak ada yang lebih tabah dari pendukung Liverpool.”
Sebelumnya, perkenalkan, saya adalah fans Liverpool sedari Sekolah Dasar, atau jika lebih spesifik, saya menjadi fans Liverpool sejak final liga Champions tahun 2005, ketika umur saya masih 10 tahun, ketika Liverpool menang dramatis setelah ketinggalan 3 gol lebih dulu melawan AC Milan. Sejak itu, saya menganggap tidak ada pemain sepakbola yang lebih keren daripada Steven Gerrard, dan tidak ada pula tim yang lebih menggairahkan untuk ditonton selain Liverpool.

Keluarga saya bukanlah seorang pendukung Liverpool. Kakak pertama saya memegang Juventus sebagai jagoannya, kakak kedua memilih Barcelona, sedangkan Bapak saya.. tidak jelas. Bukan, bukan. Maksudnya bukan saya meragukan kejelasan status Bapak saya sebagai ayah kandung. Tidak sesinetron itu.
Begini, kadang di malam minggu beliau menggunakan kaos MU lalu berkoar Glory Glory Manchester United, lalu beberapa tahun kemudian menasbihkan diri sebagai pendukung Barcelona era Pep Guardiola, lalu sekarang beralih ke Manchester City. Bisa dibilang, beliau adalah seorang Glory Hunter.
Bagi fans Liverpool, tidak ada tim yang paling dibenci selain Manchester United, sehebat apapun tim tersebut, sekelas dunia apapun pemain yang bermain di sana tidak mempengaruhi kebencian kami terhadap si setan merah. Hal ini tidak terlepas dari sejarah dan persaingan gelar yang diperebutkan kedua tim.
Sialnya, Bapak saya adalah (pernah) penggemar Manchester United. Bayangkan, hampir setiap pertandingan antara Liverpool melawan MU, saya harus mendengar kalimat sindiran seperti “huh, tim hobi keok.” Atau yang lebih menyayat hati seperti “tim ecek-ecek yang gak pernah juara liga Inggris lagi.”

Supporter Liverpool

Saya tidak bisa membalas, selain karena tidak ingin dianggap durhaka, memang pada saat itu MU sedang di puncak kejayaan bersama Sir Alex Ferguson dengan raihan segudang prestasinya. Beruntung kecintaan Bapak saya terhadap MU tidak abadi, dengan demikian kebenciannya kepada saya yang memilih jalan menjadi supporter Liverpool tidak berlanjut selamanya.
Menjadi pendukung Liverpool adalah kesakitan paling disengaja. Bagaimana tidak, kehilangan harapan di setiap penghujung musim bagai menelan sebuah pil pahit setiap tahun. Karena keseringan, saya menganggapnya cemilan.
Tercatat setidaknya sudah dua kali, 2008/2009 ketika hampir juara bersama Fernando Torres, lalu 2013/2014 bersama Luis Suarez. Ketika kami beramai-ramai meneriakan kalimat “this is our year” lalu terpeleset di laga-laga pamungkas, yang akhirnya teriakan tersebut berubah menjadi kalimat lesu “next season will be our year.” Kalimat yang terus berulang setiap tahun, sampai saat ini.
Minim prestasi di kancah domestik dan eropa membuat saya agak malu mengeluarkan ke-Liverpool-an saya, sebab hanya akan ada kepedihan demi kepedihan yang akan saya dapat. Misal ketika sedang main PS. Dulu, saya sering menghabiskan malam minggu di rental PS2 dengan bermain Winning Eleven, biasanya harus ada setidaknya 4 orang agar bisa main mode Cup.
Ketika teman-teman memperebutkan Barcelona dan Real Madrid sebagai tim yang akan mereka pakai, saya dengan selow memilih Liverpool. Lalu, apa komentar yang saya dapat? “idih, tim ecek-ecek. Pake yang kuat, napa.” Begitu ucap teman saya, yang kemudian menganggap saya meremehkannya karena menurutnya tidak mungkin Real Madrid melawan Liverpool, sebuah kesenjangan yang sangat jauh.
Karena saya memiliki pendirian teguh terhadap Liverpool, beliau akhirnya mengganti tim pilhannya dari Real Madrid menjadi Swansea City, “biar seimbang” katanya.  Duh, Gusti nu agung..
Masuknya Jurgen Klopp pada bulan Oktober 2015 bagai sebuah angin segar. Sebab dengan reputasinya ketika menukangi Borussia Dortmund tidak bisa dianggap sepele. Meruntuhkan dominasi Bayern Munchen di Bundesliga dan melaju sampai final liga champions adalah prestasinya.
Harapan akan berakhirnya puasa gelar liga Inggris yang sudah sangat lama tidak mampir ke Anfield sepertinya bakal segara berakhir. Di musim pertamanya, Jurgen Klopp sukses membawa The Reds masuk ke 2 partai puncak: piala liga dan Liga Europa (bukan Liga Champions lho). Namun, apa yang kami dapat? Betul. Kepahitan, bung. Lagi-lagi kami harus tabah pada kenyataan. Nyatanya, seorang Jurgen Klopp bukan Dewa yang bisa menyulap Liverpool menjadi kesebelasan juara dalam waktu singkat.
Next year will be our year, begitu ucap kami setiap mengalami kegagalan di suatu musim. Musim 2016/2017 bergulir, Liverpool secara garang melibas lawan-lawannya, bahkan belum pernah kalah ketika melawan anggota big six liga Inggris.
Harapan kami memuncak sampai akhir tahun 2016 Liverpool duduk di peringkat 2 liga, berselisih poin tipis dengan pemuncak klasemen Chelsea. This is our year, ucap kami. Namun, selepas pergantian tahun, performa tim jagoan kami merosot drastis, harapan akan gelar juara kembali hilang, di sisa laga sebelum musim berakhir Liverpool bahkan harus susah payah memperebutkan peringkat 4. Kembali, ketabahan adalah segalanya. Kembali pula, kalimat next year will be our year kami kumandangkan bersama.

Kini, gelaran liga Inggris musim 2017/2018 sudah akan memasuki pekan ke-4, harapan tentu saja masih sangat membara mengiringi musim anyar dimulai. Semoga tahun ini adalah tahun kami. Tapi, walaupun masih gagal, masih ada tahun depan. Toh, kami memang lebih tabah dari hujan bulan juni.
No comments

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts