Di suatu tempat seorang ibu
menangis setelah bayi yang baru saja ia lahirkan menghembuskan nafas
terakhirnya. “Mengapa Engkau cabut nyawa seorang bayi yang bahkan belum
mempunyai dosa, sedangkan banyak pendosa di luar sana tetap Kau biarkan hidup? Hidup
ini tidak adil.” Ucap ibu tersebut.
Senin, 11 September 2017
Jumat, 08 September 2017
Ada jutaan cara bersatunya dua
hati anak manusia. Mulai dari yang paling umum seperti pertemuan tidak sengaja
di suatu tempat. Atau yang absurd seperti tumbuhnya benih cinta yang bermula
dari sebuah tabrakan (ini FTV banget). Sampai bersatunya tali asmara lewat
sebuah hobi yang sama, nonton misalnya.
Tidak ada yang aneh dari kalimat
terakhir, semua terasa normal. Lalu bagaimana jika kalimat tersebut ditambahkan
satu kata: bokep, yang kemudian menjadi ‘bersatunya tali asmara lewat sebuah
hobi yang sama, nonton bokep’?
Selasa, 05 September 2017
Sapardi Djoko Damono boleh bilang
“tak ada yang lebih tabah dari hujan
bulan juni,” namun, bagi saya “tak
ada yang lebih tabah dari pendukung Liverpool.”
Sebelumnya, perkenalkan, saya
adalah fans Liverpool sedari Sekolah Dasar, atau jika lebih spesifik, saya
menjadi fans Liverpool sejak final liga Champions tahun 2005, ketika umur saya
masih 10 tahun, ketika Liverpool menang dramatis setelah ketinggalan 3 gol
lebih dulu melawan AC Milan. Sejak itu, saya menganggap tidak ada pemain
sepakbola yang lebih keren daripada Steven Gerrard, dan tidak ada pula tim yang
lebih menggairahkan untuk ditonton selain Liverpool.
Senin, 04 September 2017
Ingatan saya mundur beberapa
tahun ke belakang, ketika PR akuntansi masih sangat terasa paling menakutkan,
dan tentu saja, ketika uang belum menduduki kasta tertinggi kehidupan.
Saya menempuh pendidikan SMK pada
tahun 2010 sampai dengan tahun 2013. Uang saku saya waktu itu hanya sebesar
10.000 rupiah, dengan rincian 2.000 untuk ongkos pulang pergi naik angkot,
3.000 untuk sarapan, dan 5.000 untuk jajan. Uang jajan 5.000 tersebut bisa
dihabiskan dengan membeli mie ayam seharga 3.000 dan es teh 1.000. Masih sisa
1.000, bisa untuk mentraktir gebetan segelas ale-ale dingin. Cihuy!
Teruntuk kalian pembaca blog saya sebelumnya: Diary Manusia Gagal. Sayang sekali blog
tersebut sudah tidak saya gunakan lagi. Karena selain sebab tidak terurus, saya
juga kehilangan akses login ke blog tersebut. Ah, sial!
Kerinduan saya terhadap dunia blogging mengetuk pintu hati
saya untuk membuat blog baru. Bukan karena sok keren, tapi ya pengen aja. Lagian
terserah saya juga kan, mau bikin lagi atau nggak.
Tema dari blog baru ini masih tetap sama: diary sampah.
Jadi, jika Anda berharap saya menjadi layaknya seorang
pemuda hijrah yang memilih berdakwah melalui blog, Anda salah
besar. Saya masih seorang pemuda yang sama. Pemuda bedebah yang mungkin
akan tetap menjadi seperti sebelumnya.
Besar harapan saya agar pembaca tidak menjadikan
tulisan-tulisan saya di sini sebagai acuan tren gaul. Sebab selain karena saya
bukan pemuda gaol, saya bisa jamin kalau tulisan saya tidak mengandung faedah
sama sekali.
Udah, gitu doang.
Langganan:
Postingan (Atom)
Popular Posts
-
Ada jutaan cara bersatunya dua hati anak manusia. Mulai dari yang paling umum seperti pertemuan tidak sengaja di suatu tempat. Atau yang ...