Selasa, 05 Maret 2019

Salam Tak Sampai

Dikarenakan gue merasa sosial media mayor di Indonesia udah gak asik, beberapa bulan ini hampir setiap malam gue selalu dengerin radio.
Biasanya gue mendengarkan mulai dari jam 10 malam.
Suatu ketika, gue mendengar program curhat tengah malam di salah satu radio Jakarta. Si penelpon bilang kalau dia sedang rindu sama mantan pacarnya tapi gengsi kalau bilang langsung. Lalu si penelpon request lagu Jasson Mraz yang judulnya i’m yours, katanya lagu tersebut adalah lagu kenangan mereka berdua sewaktu masih pacaran, dia berharap mantannya dengerin lalu kemudian setidaknya mengenang masa-masa indah mereka dulu.
Sayang, si penyiar radio tidak mengindahkan permintaan si penelpon, alasannya kuat: program yang dia bawakan hanya memutar lagu-lagu dari musisi Indonesia.
Si penelpon kecewa, tapi dengan cekatan si penyiar menawarkan lagu lain sebagai alternatif.
“gimana kalau lagu Lyla yang mantan kekasih aja, Mbak?”
Terdengar suara tarikan nafas si penelpon, dia meng-iyakan dengan (mungkin) terpaksa, karena memang sudah tanggung curhat.
Lagu mantan kekasih dari Lyla diputar. Gue merenung.
*
Jaman gue remaja, setelah acara MTV yang tamat, media untuk update info musik ngehits terbaru selain dahsyat adalah mendengarkan radio.
Hampir setiap sore sambil menunggu teman-teman yang lain datang ke lapangan bola, kami biasanya mendengarkan radio menggunakan handphone.
Tak jarang beberapa teman gue request lagu dan titip salam buat gebetannya. Waktu itu masih SMP, gue merasa hal itu adalah norak.
Lalu pada akhirnya hal yang gue anggap norak sebelumnya itu gue lakukan juga gara-gara naksir cewek.

Di antara teman-teman seumuran, gue mungkin adalah orang yang telat baligh.
Ada beberapa temen gue yang udah suka sama cewek ketika masih SD. Di era itu, gue masih disibukan dengan agenda adu ikan cupang.
Ketika kelas 1 sampai 2 SMP, laki-laki dan perempuan dipisah. Teman-teman gue sudah mulai membicarakan tentang cewek. Gue masih membicarakan tips trik biar bisa menang balapan tamiya.
Barulah pada kelas 3 SMP, tahun 2009, laki-laki dan perempuan dicampur.
Pada tahun itu, gue mulai suka sama cewek. Waktu itu gue suka sama temen sekalas gue, sebut saja namanya Winda. Salah satu cewek paling cantik di sekolah.
Gue melakukan pendekatan dengan berbagai modus, diantaranya ngerjain PR bareng. Apapun pendekatan yang gue lakukan semata-mata untuk mengenal dia lebih jauh.
Singkat waktu, kami jadi sering ngobrol. Baik ngobrol langsung setiap jam istirahat maupun via telepon ketika di rumah. Karenanya gue jadi tahu kalau dia suka warna merah, suka batagor pake sukro, dan dia gak suka cowok yang suka jilat upilnya sendiri. Sederhananya, kami sudah saling mengenal.
“lo suka band apa?” tanya dia.
“ST 12” jawab gue. Lalu kemudian dia menertawakan gue.
“selera musik lo gitu amat. Norak.” Katanya terkekeh.
Gue gak ngerti kenapa dia gak suka ST12, padahal pada saat itu lagunya yang berjudul cari pacar lagi sedang ngehits. Semua orang suka ST12.
“emang lo suka band apa?” tanya gue.
“banyak. Greenday, Oasis.. apa lagi ya..” katanya sambil mencoba mengingat nama-nama band kesukaannya. “tapi sekarang gue lagi suka banget sama lagunya Jasson Mraz yang i’m yours.”
“Oh ya?”
“Iya, tiap sore gue dengerin radio.”
Setelahnya gue selalu mendengarkan radio dengan seksama. Berharap si penyair memutarkan lagu i’m yours. Sialnya lagu tersebut tak pernah diputar ketika gue sedang mendengarkan (atau mungkin gue salah pilih channel).
Puncak dari sebuah pendekatan adalah mengutarakan. Saat itu adalah kali pertama gue naksir cewek, keberanian mengutarakan isi hati masih nol. Cemen banget.
Gue bukan tanpa usaha, pernah gue mau bilang langsung, tapi mendadak tegang, lalu akhirnya gagal. Lalu mencoba dengan cara paling aman: nembak via SMS.
Gue mengetik kalimat yang sesuai dan gak norak, setelah selesai gue periksa lagi, lalu gue hapus karena gue rasa jelek. Gue mengetik lagi, lalu hapus lagi. Gitu terus. Ribet. Padahal kalimat intinya sederhana: “aku suka kamu.”
Pada akhirnya rencana nembak via SMS juga gagal.
Lalu gue kepikiran buat request ke radio lalu kesukaan si Winda. Siangnya, gue memastikan radio mana yang sering dia dengarkan. Gue lupa nama radionya, yang jelas dia bilang akan mendengarkan sore itu.
Sore itu, dengan deg-degan gue menelpon untuk request lagu.
“halo dengan siapa di mana?” kata si penyiar.
Gue tegang, sekaligus malu kalo harus pake nama beneran, takutnya temen-temen gue lagi dengerin terus dicie-cie-in. Gue memutuskan menggunakan inisial.
“Dengan NR di Pandeglang.”
“Ok, mbak NR di Pandeglang, mau request lagu apa?”
Lho kok ‘mbak’ sih, pikir gue.
“Saya bukan mbak-mbak.” Jawab gue.
“Mohon maaf, Ibu.. mau request lagu apa?”
Karena memang waktu itu suara gue masih cempreng akhirnya gue pasrah disebut ibu.
“saya mau request lagu Jasson Mraz, im yours. Sekalian titip salam buat temen saya, Winda. Lagu ini lagu kesukaannya dia.” Kata gue.
Si penyiar memutar lagu tersebut. Gue lega dan bahagia.
Gue langsung kirim SMS si Winda, “dengerin radio sekarang.” Tapi gak ada balesan, mau telpon pulsa sudah terambil habis.
Besoknya di sekolah dia nanya tentang SMS gue.
“Kemaren ada apa di radio?”
“Ada lagu kesukaan lo, im yours.”
“Oh gitu..”
“Emang lo gak dengerin radio?”
“Enggak. Kemaren Papah beli laptop, gue ke warnet deh download lagu. Lebih enak daripada dengerin di radio, bisa muter lagu berulang-ulang, radio mah untung-untungan.”


Shit!

Continue reading

No comments

Senin, 11 September 2017

Hidup Ini Adil

Di suatu tempat seorang ibu menangis setelah bayi yang baru saja ia lahirkan menghembuskan nafas terakhirnya. “Mengapa Engkau cabut nyawa seorang bayi yang bahkan belum mempunyai dosa, sedangkan banyak pendosa di luar sana tetap Kau biarkan hidup? Hidup ini tidak adil.” Ucap ibu tersebut.

Continue reading

No comments

Jumat, 08 September 2017

Ketika 3gp Menyatukan 2 Hati

Ada jutaan cara bersatunya dua hati anak manusia. Mulai dari yang paling umum seperti pertemuan tidak sengaja di suatu tempat. Atau yang absurd seperti tumbuhnya benih cinta yang bermula dari sebuah tabrakan (ini FTV banget). Sampai bersatunya tali asmara lewat sebuah hobi yang sama, nonton misalnya.
Tidak ada yang aneh dari kalimat terakhir, semua terasa normal. Lalu bagaimana jika kalimat tersebut ditambahkan satu kata: bokep, yang kemudian menjadi ‘bersatunya tali asmara lewat sebuah hobi yang sama, nonton bokep’?

Continue reading

No comments

Selasa, 05 September 2017

Supporter Liverpool Yang Lebih Tabah Dari Hujan Bulan Juni

Sapardi Djoko Damono boleh bilang “tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni,” namun, bagi saya “tak ada yang lebih tabah dari pendukung Liverpool.”
Sebelumnya, perkenalkan, saya adalah fans Liverpool sedari Sekolah Dasar, atau jika lebih spesifik, saya menjadi fans Liverpool sejak final liga Champions tahun 2005, ketika umur saya masih 10 tahun, ketika Liverpool menang dramatis setelah ketinggalan 3 gol lebih dulu melawan AC Milan. Sejak itu, saya menganggap tidak ada pemain sepakbola yang lebih keren daripada Steven Gerrard, dan tidak ada pula tim yang lebih menggairahkan untuk ditonton selain Liverpool.

Continue reading

No comments

Senin, 04 September 2017

Cara Saya Mengatasi Uang Jajan Minim

Ingatan saya mundur beberapa tahun ke belakang, ketika PR akuntansi masih sangat terasa paling menakutkan, dan tentu saja, ketika uang belum menduduki kasta tertinggi kehidupan.
Saya menempuh pendidikan SMK pada tahun 2010 sampai dengan tahun 2013. Uang saku saya waktu itu hanya sebesar 10.000 rupiah, dengan rincian 2.000 untuk ongkos pulang pergi naik angkot, 3.000 untuk sarapan, dan 5.000 untuk jajan. Uang jajan 5.000 tersebut bisa dihabiskan dengan membeli mie ayam seharga 3.000 dan es teh 1.000. Masih sisa 1.000, bisa untuk mentraktir gebetan segelas ale-ale dingin. Cihuy!

Continue reading

1 Comment

Pindah

Teruntuk kalian pembaca blog saya sebelumnya:  Diary Manusia Gagal. Sayang sekali blog tersebut sudah tidak saya gunakan lagi. Karena selain sebab tidak terurus, saya juga kehilangan akses login ke blog tersebut. Ah, sial!
Kerinduan saya terhadap dunia blogging mengetuk pintu hati saya untuk membuat blog baru. Bukan karena sok keren, tapi ya pengen aja. Lagian terserah saya juga kan, mau bikin lagi atau nggak.
Tema dari blog baru ini masih tetap sama: diary sampah.
Jadi, jika Anda berharap saya menjadi layaknya seorang pemuda hijrah yang memilih berdakwah melalui blog, Anda salah besar. Saya masih seorang pemuda yang sama. Pemuda bedebah yang mungkin akan tetap menjadi seperti sebelumnya.
Besar harapan saya agar pembaca tidak menjadikan tulisan-tulisan saya di sini sebagai acuan tren gaul. Sebab selain karena saya bukan pemuda gaol, saya bisa jamin kalau tulisan saya tidak mengandung faedah sama sekali.

Udah, gitu doang.

Continue reading

No comments

Popular Posts